Minggu, 19 Agustus 2012

alifudinal-azzamblogspot.com



Dilema Penerapan Hukum
 Dan Nilai –Nilai Kejujuran 

       

     Tidak dapat dipungkiri bahwa akhir-akhir ini system ketatanegaraan Indonesia dihadapkan dengan berbagai polemik dalam berbagai sektor kehidupan, mulai dari sector ekonomi pendidikan social dan budaya,hal ini tentunya mendorong pemerintah untuk lebih efektif dan selektif dalam mengutamakan penyelesaian permasalahan-permasalahan tersebut,sehingga dapat terwujud tatanan masyarakat yang adil makmur dan sejahtera sebagaimana tujuan berdirinya bangsa ini yang diamanatkan dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. 

       Salah satu polemik yang terus saja bertambah dari hari kehari adalah polemik dibidang Hukum, yang hampir setiap hari kita disuguhkan dengan berbagai berita pelanggaran hukum. pertanyaanya kemudian adalah Dimanakah peran hukum selama ini ?, ketika kasus korupsi semakin menjadi –jadi, yang menyeret berbagai elit politik negeri ini. Sebenarnya siapa yang harus disalahkan apakah Hukum yang ada ?,Penegak Hukum?,atau Masyarakat secara Umum?, mungkin setiap orang harus kembali bertanya pada dirinya sendiri. Secara sederhana tidak ada yang perlu disalahkan, hanya saja setiap pribadi harus kembali bermuhasabah diri terhadap apa yang telah dilakukan selama ini, apakah perbuatan kita sudah benar ketika kita mengkalim bahwa hukum yang salah sedangkan kita sendiri menyadari bahwa hukum adalah produk yang telah di buat di DPR sebagai perwakilan masyarakat Indonesia, selanjutnya bagi para penegak hukum apakah benar penegakan keadilan itu telah diterapkan seadil-adilnya ataukan hanya sebatas peraturan belaka, dan bagi masyarakat apakah benar sebagai masyarakat yang baik kita telah mengikuti peraturan yang ada. 

     Salah satu hal yang perlu di jalankan untuk membentuk tatanan masyarakat yang sejahtera adalah memulai dari lingkup terkecil sebuah Negara yakni keluarga, sebagai seorang mukmin banyak hal yang telah di ajarkan oleh agama dalam menjalani kehidupan sehari-hari dari hal yang terkecil hingga hal-hal yang menyangkut urusan kehidupan berbangsa dan bernegara, 

Allah SWT Berfirman

 لِّيَجْزِيَ اللهُ الصَّادِقِينَ بِصِدْقِهِمْ وَيُعَذِّبَ الْمُنَافِقِينَ 
Supaya Allah memberikan balasan kepada orang-orang yang benar itu karena kebenarannya, dan menyiksa orang munafik... (QS. Al-Ahzab:24) 

      Nilai nilai keadilan kejujuran diajarkan sebegitu indah dan sempurna pada setiap pribadi, training kejujuran dengan berpuasa sebulan penuh dibulan Ramadhan ataupun puasa sunnah lainya dimana kita dilatih untuk jujur pada diri kita sendiri dan jujur kepada Allah, bukankah ketika perilaku jujur ini kita terapkan pada kehidupan kita sehari hari maka sudah pasti kita merupakan pribadi yang diharapkan untuk ada ketika nilai-nilai kejujuran mulai hilang sedikit demi sedikit di negeri ini. 

 Sabda Rasulullah SAW: 

عَلَيْكُمْ بِالصِّدْقِ فَإِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِي إِلَى الْبِرِّ وَإِنَّ الْبِرَّ يَهْدِي إِلَى الْجَنَّةِ. وَمَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَصْدُقُ وَيَتَحَرَّى الصِّدْقَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللهِ صِدِّيْقًا  
"Kamu harus selalu bersifat jujur, maka sesungguhnya kejujuran menunjukkan kepada kebaikan, dan sesungguhnya kebaikan membawa ke surga. Dan senantiasa seseorang bersifat jujur dan menjaqa kejujuran, sehingga ia ditulis di sisi Allah  sebagai orang yang jujur." 

       Sahabat pembaca yang budiman semoga kita termasuk kedalam orang-orang yang selalu bersifat jujur sehingga kita menjadi orang-orang yang diharapkan ada di Negara ini. 

 Jazakallah Khairan Katsiran
Wassalamu'alaikum Wr Wb

 www.Alifudin al-azzam.Blogspot.com